Penilaian Kesehatan Bank Syariah dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

Posted by Ensikloblogia on Selasa, 24 Mei 2016

loading...

Penilaian kesehatan bank bukan hanya dilakukan untuk bank konvensional, tetapi juga dilakukan untuk bank syariah, baik untuk bank umum syariah maupun untuk bank perkreditan rakyat syariah. Hal ini dilakukan sesuai dengan perkembangan metodologi penilaian kondisi bank yang bersifat dinamis yang mendorong pengaturan kembali sistem  penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan prinsip syariah. Tujuannya adalah memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai kondisi saat ini dan mendatang.

Penilaian kesehatan bank syariah dapat dilakukan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 9/1/PBI/2007 tentang sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah yang mulai berlaku pada 24 januari 2007. Dari hasil penjelasan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Siti Chalimah Fadjriah menjelasakan bahwa penerapan ini dilakukan dengan memperkirakan produk dan jasa perbankan syariah ke depan kian beragam dan kompleks sehingga eksposur risiko yang dihadapi juga meningkat.

Meningkatnya ekposur risiko tersebut akan mengubah profil risiko bank syariah, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank tersebut. Dalam penilaian tingkat kesehatan bank syariah, bank syariah telah memasukkan risiko yang melekat pada aktivitas bank (inherent risk), yang merupakan bagian dari proses penilaian manajemen risiko.


Penilaian Kesehatan Bank Syariah dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)


Bank umum syariah wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulanan, yang meliputi faktor-faktor antara lain :
  1. Permodalan (capital)
  2. Kualitas aset (Asset quality)
  3. Rentabilitas (earning)
  4. Likuiditas (liuidity)
  5. Sensitivitas terhadap risiko pasar ( sensitivity to market risk)
  6. Manajemen (management)

Penilaian peringkat komponen atau rasio keuangan pembentuk faktor finansial (permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko besar) dihitung secara kuantitatif dan kualitatif dengan memperhatikan unsur judgement.

Khusus untuk penilaian bank perkreditan rakyat syariah, Bank Indonesia mengeluarkan aturan baru yang mulai berlaku 4 Desember 2007, yaitu Peraturan Bank Indoensia (PBI) Nomor 9/17/PBI/2007 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah mengatur penilaian kesehatan Bank Perkeditan Rakyat Syariah (BPRS) mencakup penilaian di antaranya :
  1. Faktor permodalan (capital)
  2. Faktor kualitas aset (asset quality)
  3. Faktor rentabilitas (earning)
  4. Faktor likuiditas (liquidity) atau keuangan yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif
  5. Penilaian atas komponen dari faktor manajemen (management) yang dilakukan secara kualitatif

Rincian penilaian kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut :
  1. Penilaian secara kualitatif dilakukan dengan mempertimbangkan indikator pendukung dan/atau pembanding yang relevan.
  2. Peringkat setiap komponen pembentuk faktor keuangan terdiri dari peringkat 1,2,3,4, dan 5.
  3. Peringkat setiap komponen pembentuk faktor manajemen terdiir dari peringkat A, B, C, dan D.
  4. Proses penilaian peringkat faktor keuangan dilakukan dengan pembobotan atas nilai peringkat faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas, dan likuiditas.
  5. Berdasarkan hasil penilaian peringkat faktor keuangan dan penilaian peringkat faktor manajemen, ditetapkan peringkat komposit yang merupakan peringkat akhir hasil penilaian tingkat kesehatan bank.
  6. Proses penilaian peringkat komposit dilaksanakan melalui penggabungan atas peringkat faktor keuangan dan  peringkat manajemen menggunakan tabel konversi dengan mempertimbangkan indikator pendukung dan unsur judgement.

Kemudian, untuk menentukan Peringkat Komposit yang merupakan peringkat akhir hasil penilaian tingkat kesehatan bank ditetapkan sebagai berikut :


No
Peringkat
keterangan
1
Komposit 1
Bank memiliki tingkat kesehatan yang sangat baik sebagai hasil dari pengelolaan usaha yang sangat baik
2
Komposit 2
Bank memiliki tingkat kesehatan yang  baik sebagai hasil dari pengelolaan usaha yang baik
3
Komposit 3
Bank memiliki tingkat kesehatan yang cukup baik sebagai hasil dari pengelolaan usaha yang cukup baik
4
Komposit 4
Bank memiliki tingkat kesehatan yang kurang baik sebagai hasil dari pengelolaan usaha yang kurang baik
5
Komposit 5
Bank memiliki tingkat kesehatan yang tidak baik sebagai hasil dari pengelolaan usaha yang tidak baik


Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) wajib melakukan penghitungan rasio-rasio keuanga terkait dengan penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) secara triwulan, untuk posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember.

Bank Indonesia dapat meminta Direksi, Dewan Komisaris, dan/ atau Pemegang Saham untuk menyampaikan rencana tindakan (action plan) apabila hasil penilaian tingkat kesehatan bank perkreditan rakyat syariah menunjukkan :
  1. Satu atau lebih faktor permodalan, faktor kualitas aset, faktor rentabilitas, faktor likuiditas memiliki peringkat 4 dan 5.
  2. Faktor manajemen memiliki peringkat C dan D.
  3. Memiliki Peringkat Komposit 4 atau 5.


Demikianlah penjelasan mengenai penilaian kesehatan Bank Syariah dan penilaian kesehatan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Semoga bermanfaat.

loading...
Blog, Updated at: 22.25

0 komentar:

Posting Komentar