Pengertian Wakaf, Tujuan dan Fungsi Wakaf serta Syarat Wakaf atau Unsur-Unsur Wakaf (LENGKAP)

Posted by Ensikloblogia on Selasa, 01 November 2016

Loading...

Kita tentu sering mendengar kata wakaf. Apa itu wakaf ? untk menjawab pertanyaan itu, maka pada kesempatan ini akan dijelaskan mengenai pengertian wakaf, tujuan dan fungsi wakaf, unsur-unsur wakaf atau syarat wakaf, pendaftaran dan pengumuman harta benda wakaf, serta perubahan status harta benda wakaf.


Pengertian wakaf


Kata wakaf berasal dari bahasa Arab waqf yang artinya menahan. Secara etimologis, wakaf artinya menahan suatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya demi kebaikan dan kemaslahatan umum. Pengertian wakaf menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Wakaf, waqaf adalah perbuatan hukum wakif (orang yang berwakaf) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta miliknya  untuk dimanfaatkan selamanya dan untuk jangka waktu tertentu  sesuai dengan kepentingannya guna keperluan Ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariat.

Berdasarkan dua definisi wakaf di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa wakaf merupakan salah satu bentuk pemberian, namun hanya boleh diambil manfaatnya, sedangkan benda yang diberikan harus tetap utuh. 

Oleh karena itu, benda atau kekayaan yang akan diwakafkan adalah benda atau kekayaan yang tahan lama dan dapat diambil manfaatnya tanpa menimbulkan kerusakan, seperti tanah dan bangunan. Benda atau kekayaan yang diwakafkan itu digunakan untuk kepentingan umum, misalnya sekolah, masjid, majelis taklim, dan pemakaman.

Hukum wakaf adalah sunnah dan pahala yang diterima wakif adalah pahala sedekah jariah yang tidak akan pernah putus selama benda yang diwakafkan itu masih digunakan dan bermanfaat.


Pengertian Wakaf, Tujuan dan Fungsi Wakaf serta Unsur-Unsur Wakaf (LENGKAP)


Tujuan dan fungsi wakaf


Praktik wakaf yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat belum sepenuhnya efisien dan  efektif. Akibatnya, dalam banyak kasus banyak harta benda wakaf tidak terpelihara sebagaimana mestinya. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang kurang peduli dengan status harta benda wakaf yang seharusnya dilindungi untuk kesejahteraan umum sesuai dengan tujuan, fungsi dan peruntukan wakaf.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, untuk memenuhi kebutuhan hukum, maka pada tanggal 27 Oktober 2004, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

Tujuan wakaf adalah memanfaatkan harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya. Fungsi wakaf adalah mewujudkan potensi dan  manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk keperntingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.


Unsur-unsur wakaf atau syarat-syarat wakaf


Suatu wakaf akan sah apabila memiliki 6 unsur wakaf, yaitu :
1. Wakif
2. Nazir
3. Harta benda wakaf
4. Ikrar wakaf
5. Peruntukkan harta benda wakaf
6. Jangka waktu wakaf

Berikut ini adalah penjelasan mengenai unsur-unsur wakaf di atas.


wakif


Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta bendanya. Wakif bisa berupa perorangan, organisasi atau badan hukum. Syarat wakif adalah dewasa, berakal sehat, tidak terhalang melakukan perbuatan hukum, dan pemilik sah harta benda wakaf.

Wakif organisasi hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik organisasi sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan.

Wakif badan hukum hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan badan hukum untuk mewakafkan harta benda wakaf milik badan hukum  sesuai dengan anggaran dasar badan hukum yang bersangkutan.


Nazir


Unsur wakaf yang kedua adalah nazir. Nazir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukkannya. Nazir dapat berupa perseorangan, organisasi atau badan hukum.

Perorangan hanya dapat menjadi nazir apabila memenuhi syarat sebagai berikut :
  • Warga negara Indonesia
  • Beragama Islam
  • Dewasa
  • Amanah
  • Mampu secara jasmani dan rohani
  • Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum


Organisasi dapat memenuhi syarat menjadi nazir apabila :
  • Pengurus organisasi tersebut memenuhi syarat untuk menjadi nazir perseorangan.
  • Organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan/atau keagamaan Islam.


Badan hukum dapat menjadi nazir apabila memenuhi syarat :
  • Pengurus badan hukum tersebut telah memenuhi syarat untuk menjadi nazir perseorangan.
  • Badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Badan hukum yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.


Tugas nazir sebagai pihak penerima wakaf adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf.
  2. Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi dan peruntukannya.
  3. Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf.
  4. Melaporkan pelaksanaan tugas kepada Badan Wakaf Indonesia.

Dalam melaksanakan tugas, nazir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi  10%. Nazir memperoleh pembinaan dari Badan Wakaf Indonesia dan menteri.


Harta benda wakaf


Harta benda wakaf adalah harta benda yang diwakafkan oleh wakif. Harta ini harus memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang, serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariat. Harta benda wakaf hanya dapat diwakafkan apabila dimiliki dan dikuasai oleh wakif secara sah.

Harta benda wakaf meliputi benda bergerak dan tidak bergerak. Benda bergerak dalam wakaf meliputi :
  1. Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang sudah terdaftar maupun yang belum terdaftar.
  2. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah.
  3. Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah.
  4. Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  5. Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Benda bergerak adalah harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi hal-hal sebagai berikut :
  1. Uang
  2. Logam mulia
  3. Surat berharga
  4. Kendaraan
  5. Hak atas kekayaan intelektual
  6. Hak sewa
  7. Benda bergerak lain, sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Ikrar wakaf


Ikrar wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada nazir untuk mewakafkan harta benda miliknya. Ikrar wakaf dilaksanakan oleh wakif  kepada nazir dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Ikrar wakaf dinyatakan secara lisan dan/atau tulisan serta dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.

Jika wakif tidak dapat menyatakan ikrar wakaf secara lisan atau tidak dapat hadir dalam pelaksanaan ikrar wakaf, wakif dapat menunjuk kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh dua orang saksi. Hal ini diperbolehkan jika wakif memiliki alasan yang dibenarkan secara hukum.


Peruntukan harta benda wakaf


Peruntukan harta benda wakaf adalah orientasi harta benda wakaf yang dituju, apakah kepada perorangan atau kelompok umum. Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf, harta benda wakaf hanya dapat digunakan untuk tujuan-tujuan sebagai berikut :
  1. Sarana dan kegiatan ibadah.
  2. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan.
  3. Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, dan beasiswa.
  4. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, dan/atau
  5. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.

Penetapan peruntukan harta benda wakaf dilakukan oleh wakif pada pelaksanaan ikrar wakaf. Jika wakif tidak menetapkan peruntukan harta benda wakaf, nazir dapat menetapkan peruntukan harta benda wakaf yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan fungsi wakaf.


Pendaftaran dan pengumuman harta benda wakaf


PPAIW atas nama nazir, mendaftarkan harta benda wakaf kepada instansi yang berwenang paling lambat 7 hari kerja sejak akta ikrar wakaf ditandatangani. Dalam pendaftaran harta benda wakaf, PPAIW menyerahkan salinan akta ikrar wakaf dan  surat-surat dan/atau bukti-bukti kepmilikan serta dokumen terkait lainnya.

Instansi yang berwenang menerbitkan bukti pendaftaran harta benda wakaf. Bukti pendaftaran harta benda wakaf disampaikan oleh PPAIW kepada nazir. Jika harta benda wakaf ditukar atau diubah peruntukannya, nazir dapat mendaftarkan kembali benda wakaf itu kepada instansi yang berwenang dan Badan Wakaf Indonesia.

Menteri dan Badan Wakaf Indonesia mengumumkan kepada masyarakat harta benda wakaf yang telah terdaftar. Ketentuan lebih lanjut mengenai PPAIW, tata cara pendaftaran, dan pengumuman harta benda wakaf diatur dalam Peraturan Pemerintah.



Perubahan status harta benda wakaf

Harta benda wakaf dilarang untuk :
1. Dijadikan jaminan,
2. Disita,
3. Dihibahkan,
4. Dijual,
5. Diwariskan,
6. Ditukar,
7. Dialihkan dalam bentuk pengalihan lainnya.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian wakaf, tujuan dan fungsi wakaf, unsur-unsur wakaf, pendaftaran dan pengumuman harta benda wakaf, serta perubahan status harta benda wakaf.

Loading...
Blog, Updated at: 03.43

0 komentar:

Posting Komentar