Pengertian Yurisprudensi, Macam-Macam Yurisprudensi dan Asas Yurisprudensi

Posted by Ensikloblogia on Senin, 28 November 2016

loading...

Pengertian yurisprudensi

Yurisprudensi adalah salah satu yang dikenal sebagai sumber hukum, baik pada negara yang menganut sistem hukum anglo saxon maupun negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental. Istilah yurisprudensi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu “yurisprudentia” yang berarti pengetahuan hukum. Di negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental atau civil law, yurisprudensi berarti putusan hakim, sedangkan di negara negara common law atau anglo saxon, yurisprudensi berarti sumber hukum.

Pengertian yurisprudensi menurut C.S.T. Kansil, yurisprudensi adalah keputusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan oleh hakim kemudian mengenai kasus yang sama. Dengan demikian, yurisprudensi adalah suatu keputusan hakim yang diikuti oleh hakim lainnya, merupakan sumber hukum dalam arti formal.

Keputusan hakim atau yurisprudensi adalah suatu produk yudikatif, yang isinya berupa kaedah atau peraturan hukum yang mengikat pihak-pihak yang bersangkutan atau terhukum. Dengan demikian, keputusan hakim hanya mengikat pada orang-orang tertentu saja dan tidak mengikat secara umum. Jadi, hakim menghasilkan hukum yang berlaku terbatas pada kasus dari pihak-pihak tertentu.


Pengertian Yurisprudensi, Macam-Macam Yurisprudensi dan Asas Yurisprudensi

Sebab seorang hakim menggunakan putusan hakim lain


Adapun seorang hakim menggunakan putusan hakim lain, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
  1. Pertimbangan psikologis, karena keputusan hakim mempunyai kekuatan atau kekuasaan hukum, terutama keputusan Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, maka biasanya hakim bawahan segan untuk tidak mengikuti keputusan tersebut.
  2. Pertimbangan praktis, karena dalam kasus yang sama telah ada putusannya dari hakim terdahulu, terlebih lagi jika putusan itu telah diperkuat oleh pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung.
  3. Pendapat yang sama, karena hakim yang bersangkutan sependapat dengan keputusan hakim lain yang lebih dahulu, terutama apabila isi dan tujuan undang-undang sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan sosial yang nyata pada waktu kemudian, maka sudah wajarlah jika keputusan hakim lain itu dipergunakan.


Macam-macam Yurisprudensi


Yurisprudensi dibagi menjadi dua macam, yaitu yurisprudensi tetap dan yurisprudensi tidak tetap. Berikut ini penjelasannya :
  1. Yurisprudensi tetap, yakni keputusan hakim yang terjadi karena rentetan keputusan yang sama dan dijadikan dasar atau patokan untuk memutuskan suatu perkara (standar arresten). Standar adalah dasar atau baku dan arresten adalah keputusan Mahkamah Agung.
  2. Yurisprudensi tidak tetap, yaitu yurisprudensi atau keputusan hakim terdahulu yang belum masuk standard arresten atau belum menjadi yurisprudensi tetap.

Contoh yurisprudensi tetap adalah yurisprudensi Belanda yang diikuti oleh Indonesia pada tanggal 23 Mei 1921 yang memutuskan bahwa pencurian tenaga alam seperti listrik dapa dihukum berdasarkan Pasal 362 KUHPidana tentang pencurian. Karena pencurian listrik termasuk mengambil  barang milik orang lain secara melawan hukum dengan maksud memiliki barang tersebut.


Asas-asas yurisprudensi


Dalam praktik ketatanearaan, penanganan peradilan dilaksanakan berdasarkan asas-asas tertentu. Asas-asas yurisprudensi tersebut adalah asas precedent dan asas bebas.

Dalam asas precedent yang dianut oleh negara-negara anglo saxon seperti Inggris dan Amerika, dikatakan bahwa hakim terikat pada keputusan hakim yang tedahulu  dari hakim yang sama derajatnya atau yang lebih tinggi. Jadi, hakim harus berpedoman pada putusan pengadilan tertdahulu apabila ia dihadapkan pada suatu peristiwa. Di sini, hakim berpikir secara induktif.

Menurut R. Soeroso, asas precedent atau stare decisis berlaku berdasarkan 4 faktor, yaitu :
  1. Bahwa penerapan dari peraturan-peraturan yang sama pada kasus-kasus yang sama menghasilkan perlakuan yang sama, bagi siapa saja/yang datang/menghadap pada pengadilan.
  2. Bahwa mengikuti precedent secara konsisten dapat menyumbangkan pendapatnya dalam masalah-masalah di kemudian hari.
  3. Bahwa penggunaan kriteria yang mantap untuk menempatkan masalah-masalah yang baru dapat menghemat waktu dan tenaga.
  4. Bahwa pemakaian putusan-putusan yang lebih dulu menunjukkan adanya kewajiban untuk menghormati kebijaksanaan dan pengalaman  dari pengadilan pada generasi sebelumnya.

Sekalipun terikat pada yurisprudensi dari hakim terdahulu,  ada hal-hal tertentu yang menjadi pengecualiannya, yaitu :
  1. Apabila penerapan dari keputusan yang dahulu pada peristiwa yang sekarang dihadapi  dipandang jelas-jelas tidak beralasan dan tidak pada tempatnya.
  2. Sepanjang mengenai dictum, keputusan hakim terdahulu tidak diperlukan dalam pembuatan keputusan.


Asas bebas adalah asas yurisprudensi yang merupakan kebalikan dari asas precedent. Asas ini dianut oleh negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental seperti Belanda, Jerman, Perancis, dan Italia. Asas bebas menyatakan bahwa hakim tidak terikat pada putusan hakim sebelumnya yang berstasus sama ataupun lebih tinggi tingkatannya.  Di sini, hakim berpikir secara deduktif. 

Di Indonesia, kita mengenal kedua asas yurisprudensi tersebut. Asas bebas bagi peradilan barat dan asas precedent bagi peradilan adat.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian yurisprudensi, macam-macam yurisprudensi, dan asasn-asas yurisprudensi. Semoga bermanfaat.

loading...
Blog, Updated at: 19.28

0 komentar:

Posting Komentar