Pengertian Tsunami, Tanda-Tanda Tsunami, Penyebab Tsunami dan Dampak Tsunami Terhadap Lingkungan Alam dan Sosial

Posted by Ensikloblogia on Selasa, 20 Desember 2016

loading...

Pengertian tsunami dan tanda terjadinya tsunami


Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, yaitu tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti gelombang laut. Secara harfiah, tsunami dapat diartikan sebagai ombak besar di pelabuhan. Jadi, tsunami adalah adalah ombak besar yang terjadi setelah gempa vulkanik gunung laut, gempa tektonik, atau hantaman meteor di laut. Rangkaian gelombang laut ini mampu menjalar dengan kecepatan lebih dari 900 km per jam.

Tsunami juga bisa terjadi akibat longsor. Contohnya adalah bencana longsor yang terjadi di teluk Lituya, Alaska. Ketika itu, 81 juta ton es dan bebatuan jatuh ke teluk sehingga menimbulkan gelombang yang menjalar cepat dengan ketinggian 350-500 meter.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut yang memiliki kedalaman 7.000 meter, kecepatan gelombang tsunaminya bisa mencapai 942,9 km per jam. Kecepatan tersebut hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Akan tetapi, ketinggian gelombang di tengah laut tidak lebih dari 60 cm sehingga kapal yang sedang berlayar di tengah laut sangat jarang atau sedikit merasakan tsunami.

Berbeda dengan gelombang laut biasa, di laut lepas tsunami mempunyai panjang antardua puncak gelombang sekitar 100 km dengan rentangan waktu 15 menit sampai 60 menit. Saat mencapai tepi laut, kedangkalan mencapai sekitar 30 meter sedangkan kecepatan gelombang akan menurun dan ketinggian gelombang bertambah mencapai puluhan meter. Gelombang tsunami ini bersifat merusak.

Sebagian kota besar di Samudera Pasifik, terutama di Jepang dan Hawaii (Amerika Serikat), memiliki peralatan sistem peringatan tsunami. Alat ini digunakan untuk memprediski tanda dan proses terjadinya tsunami melalui institusi seismologi yang dimonitor melalui satelit Amerika.

Beberapa wilayah di Indonesia pernah mengalami gelombang tsunami, seperti tsunami akibat letusan gunung Krakatau di Selat Sunda, serta tsunami akibat gempa tektonik di Lampung, Aceh, dan Pangandaran, Jawa Barat.

Ada beberapa petunjuk alam yang dapat diperhatikan sebagai tanda terjadinya gelombang tsunami. Tanda-tanda alam seperti  terjadinya gempa bumi yang kuat, surutnya air secara tiba-tiba, berkumpulnya ikan di tepi laut, serta keluar dan bercampurnya burung-burung dan beberapa hewan dari hutan ke perkampungan penduduk. Tanda-tanda alam itu merupakan bentuk peringatan dini yang sederhana dalam mengantisipasi datangnya bahaya tsunami dan kerusakan yang lebih parah.


Penyebab terjadinya tsunami


Gelombang tsunami terjadi karena peristiwa alam yang menyebabkan berpindahnya masa air laut ke dalam jumlah besar. Letusan gunung api, gempa di dasar laut, tanah longsor di dasar laut, runtunya gunung api laut, dan jatuhnya meteor atau benda kosmis di laut menyebabkan terjadinya gelombang tsunami. Jika yang jatuh ke laut adalah meteor yang ukurannya sangat besar, maka akan terjadi mega tsunami yang ketinggian gelombangnya mencapai ratusan meter.

Gempa besar tsunami terjadi akibat  gempa bumi tektonik di dasar laut. Gempa tersebut kemudian menghasilkan gerakan vertikal pada kerak bumi yang menyebabkan dasar laut naik atau turun sehingga mengganggu  keseimbangan air laut di atasnya. Hal ini selanjutnya mengakibatkan aliran energy air laut yang ketika sampai di pantai menjadi gelolmbang besar yang pada akhirnya menghasilkan tsunami.

Kemungkinan atas terjadinya mega tsunami yang menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau diperkuat oleh beberapa bukti alam seperti letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menimbulkan tsunami dahsyat.

Gelombang tsunami tersebut mampu menyapu provinsi Lampung dan Banten serta menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitarnya sehingga rata dengan permukaan air laut di Selat Sunda. Gelombang tsunami dengan tinggi 40 meter telah menghancurkan hampir 300 perkampungan dan menewaskan lebih dari 36.000 penduduk.


pengertian tsunami


Dampak tsunami terhadap lingkungan alam dan sosial


Kita mungkin masih mengingat dahsyatnya gelombang tsunami yang menyapu Provinsi Aceh pada tahun 2004 yang menyebabkan tewasnya 250.000 jiwa. Energi tsunami bisa mencapai 10% dari energy gempa pemicunya. Gempa dengan kekuatan 9 skala Richter akan menghasilkan gelombang tsunami yang kekuatannya setara dengan 100.000  kali kekuatan bom atom Hiroshima.

Selain itu, faktor bentuk pantai, dasar laut wilayah pantai, sudut datangnya gelombang, dan bentuk bagian depan gelombang tsunami yang menghadap ke pantai, sangat berpengaruh terhadap kerusakan yang ditimbulkan. Bencana tsunami yang terjadi dalam kurun waktu tertentu telah banyak menimbulkan korban, baik di Indonesia maupun di dunia.

Korban tewas akibat tsunami biasanya terjadi karena tenggelam, terseret arus, terkubur pasir, terhantam serpihan atau puing, dan lain-lain. Bentuk kerusakan lingkungan hidup di daerah yang dilanda gelombang tsunami  antara lain adalah pencemaran air dan tanah, kerusakan dan kehancuran pemukiman, bangunan pantai, lahan pertanian, hutan, perkebunan, dan pertambakan.

Tsunami juga dapat meluluhlantahkan fasilitas ekonomi seperti pasar, perbankan, kegiatan produksi, musnahnya perahu nelayan, pertokoan, perhotelan, dan lain-lain. Tsunami juga menyebabkan terjadinya kerusakan fasilitas umum seperti jalan raya, jembatan, rel kereta api, dan pelabuhan.


Demikianlah penjelasan mengenai pengertian tsunami, tanda-tanda gelombang tsunami, penyebab terjadinya gelombang tsunami dan dampak terjadinya tsunami terhadap lingkungan alam dan sosial.

loading...
Blog, Updated at: 18.33

0 komentar:

Posting Komentar