Masalah Pokok Ekonomi Klasik dan Modern

Posted by Ensikloblogia on Minggu, 25 Juni 2017

Loading...

Masalah pokok ekonomi pertama kali muncul karena adanya kebutuhan manusia yang tidak terbatas sementara di sisi lain, sumber daya  terbatas. Contoh masalah ekonomi sederhana adalah ketika kita berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan, sedangkan gaji yang kita dapatkan hanya pas-pasan. Secara umum, masalah pokok ekonomi terbagi menjadi masalah pokok ekonomi klasik dan masalah pokok ekonomi modern. Masalah pokok ekonomi klasik meliputi masalah produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan masalah pokok ekonomi modern meliputi apa barang yang diproduksi (What), bagaimana cara memproduksinya (How), dan untuk siapa barang itu diproduksi (whom).

Berikut ini penjelasan mengenai masalah pokok ekonomi klasik dan modern tersebut.

Masalah Pokok Ekonomi Menurut Aliran Klasik


Menurut aliran klasik, masalah ekonomi yang sangat banyak dan beragam dapat dikelompokkan menjadi tiga masalah pokok.

Masalah produksi


Masalah Produksi merupakan masalah pertama ekonomi dalam aliran klasik. Masalah produksi meliputi bagaimana cara memproduksi barang dan jasa yang berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas membuat produsen berpikir barang dan jasa apa yang harus diproduksi lebih dulu, mengingat sumber daya yang serba terbatas. Cara produksi yang mana yang akan dipakai? Dapatkah produsen memproduksi dengan efisien dan hemat? Sudahkah produsen memproduksi pada saat yang tepat? Produksi apa yang dibutuhkan bila memasuki bulan puasa?

Masalah Distribusi 


Masalah distribusi dalam ekonomi klasik adalah masalah penyaluran barang dan jasa yang telah diroduksi oleh produsen. Dalam distribusi harus diperhatikan apakah barang dan jasa yang sudah dihasilkan dapat sampai kepada konsumen dengan cara yang tepat? Jalur distribusi umumnya akan dibuat sependek mungkin sehingga harga barang dan jasa hasil produksi tidak terlalu mahal ketika sampai di tangan konsumen. Produsen perlu memikirkan bagaimana caranya mendistribusikan barang dengan baik. Misalnya saja, jika ia memiliki ikan sebanyak satu ton, apakah ia akan mendistribusikan ikan tersebut dengan mobil dan perjalanan laut atau menggunakan pesawat terbang. 

Masalah Konsumsi


Masalah konsumsi dalam ekonomi klasik berkaitan dengan pertanyaan “apakah barang dan jasa yang sudah dihasilkan benar-benar dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang memerlukan?” bisa saja barang dan jasa yang telah diproduksi oleh produsen tidak dapat dikonsumsi karena harganya terlalu mahal dan tidak terjangkau masyarakat, atau barang dan jasa tersebut tidak sampai ke masyarakat yang membutuhkan. Apa yang dapat dikonsumsi bila masyarakat penggemar teh tidak mendapat pasokan teh tetapi justru mendapat pasokan kopi? Apa yang dapat dikonsumsi bila harga teh tiba-tiba naik sepuluh kali lipat?


masalah pokok ekonomi klasik dan modern


Masalah Pokok Ekonomi Menurut Aliran Modern


Masalah ekonomi yang dihadapi manusia sangatlah banyak dan beragam. Masalah yang sangat banyak dan beragam tersebut menurut aliran modern dapat dikelompokkan menjadi tiga masalah pokok. Sehingga tiga masalah pokok ekonomi modern  yaitu : 
(1) Apa yang akan diproduksi (what)?, 
(2) Bagaimana cara memproduksi (how)?, 
(3) Untuk siapa barang dan jasa diproduksi (for whom)? 

Tiga masalah pokok ekonomi modern tersebut dapat diringkas menjadi satu masalah inti yang disebut inti masalah ekonomi, yakni bagaimana cara memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas. Berikut ini penjelasan mengenai masalah pokok ekonomi modern.

Apa yang Akan Diproduksi ( What )? 


Dalam ekonomi modern, produsen perlu memilikirkan dan menentukan barang apa yang akan diproduksi. Oleh karena itu, produsen perlu memikirkan apa (What) barang yang akan diproduksi dengan biaya minim dan bisa menghasilkan keuntungan besar serta bermanfaat bagi konsumen. 

Penentuan apa yang akan diproduksi merupakan masalah pokok dan penting dalam ekonomi modern. Karena, selain jumlah sumber daya yang terbatas, kesalahan penentuan apa yang akan diproduksi bisa mengakibatkan kerugian, bahkan kebangkrutan bagi produsen, serta dapat pula merugikan masyarakat karena adanya barang dan jasa yang menumpuk tidak terpakai. Ini merupakan pemborosan sumber daya. Untuk menentukan dengan tepat apa yang akan diproduksi, suatu negara terutama para produsennya harus mempertimbangkan dua hal, yaitu barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat dan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. 

Untuk mengetahui barang dan jasa apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat, seorang produsen perlu memerhatikan paling sedikit tujuh faktor yang bisa menimbulkan kebutuhan manusia akan barang dan jasa.
  1. Keinginan Memenuhi Kebutuhan Pokok demi Kelangsungan Hidup Kebutuhan pokok manusia meliputi sandang, pangan, dan papan. 
  2. Sifat Manusia yang Selalu Kurang puas Sudah disinggung sebelumnya bahwa sifat selalu kurang puas akan memunculkan kebutuhan baru. 
  3. Rasa Ingin Tahu Manusia Rasa ingin tahu mendorong manusia menciptakan alat-alat untuk memuaskan rasa ingin tahunya. 
  4. Keinginan Mempermudah Pekerjaan Manusia selalu ingin mempermudah pekerjaannya.
  5. Sifat Suka Meniru (Demonstration Effect) Akibat melihat tingkah laku dan gaya hidup orang lain, baik dari TV, majalah, atau di kehidupan nyata, manusia cenderung untuk menirunya.
  6. Keinginan Manusia Mendekatkan Diri pada Tuhan Keinginan manusia untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta mendorong timbulnya kebutuhan akan berbagai alat dan perlengkapan beribadah.
  7. Keinginan Diakui dan Dihargai Rasa ingin diakui dan dihargai membuat manusia terutama yang berpendapatan tinggi membutuhkan sesuatu yang berbeda dengan yang lain untuk meningkatkan martabatnya (prestise).

Setelah mengetahui tujuh faktor yang bisa menimbulkan kebutuhan manusia akan barang dan jasa, maka produsen harus mempertimbangkan tingkat ketersediaan sumber daya yang ada. Karena sumber daya bersifat langka dan pemakaiannya bersifat alternatif. Apapun pilihan yang ditetapkan produsen hendaknya pilihan tersebut memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. Jangan sampai di suatu masyarakat barang kebutuhan sekuler melimpah, tetapi barang kebutuhan pokok (primer) sulit dijumpai. Oleh karena itu, bertukar informasi dan pembagian kerja antarprodusen penting untuk dilakukan.

Bagaimana Cara Memproduksi ( How )? 


Apabila produsen sudah menentukan apa yang akan diproduksi, langkah berikutnya adalah memikirkan bagaimana cara memproduksinya. Cara memproduksi sangat berkaitan dengan cara mengombinasikan sumber daya atau faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa. Untuk menentukan cara produksi mana yang sesuai, produsen perlu mempertimbangkan aspek efisiensi atau penghematan. 

Pilihlah cara produksi yang paling sedikit membutuhkan biaya agar barang dan jasa yang dihasilkan bisa dijual dengan harga relatif murah. Penghematan bisa dilakukan, misalnya dengan mencari bahan baku dengan harga yang lebih murah tetapi tetap baik mutunya. Selain itu, pertimbangkan pula, perlukah menggunakan mesin-mesin modern? Apabila permintaan sedikit, penggunaan mesin modern tentu belum diperlukan. Lalu, perlukah spesialisasi (pembagian kerja) dalam berproduksi? Dan apakah tidak sebaiknya menggunakan cara produksi yang padat karya (labour intensive) untuk mengurangi jumlah pengangguran? Apakah cara produksi yang digunakan bisa menyebabkan pencemaran lingkungan? Sudahkah melakukan analisis tentang dampak produksi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang harus dijawab produsen untuk memilih cara berproduksi.


Untuk Siapa Barang dan Jasa Diproduksi ( For Whom )? 


Produksi barang dan jasa dilakukan bukan hanya untuk konsumen yang akan mengonsumsi barang dan jasa. Masih banyak pihak lain yang diuntungkan dari kegiatan produksi. Dengan adanya produksi, pekerja akan menerima upah, pemilik bahan baku akan menerima uang penjualan bahan baku, pemilik gedung dan tanah akan menerima uang sewa, pemilik modal akan menerima bunga modal, dan pengusaha akan menerima laba dari penjualan produknya. Jadi, yang dimaksud dengan “untuk siapa barang dan jasa diproduksi” sangat berkaitan dengan siapa saja yang akan menikmati pendapatan dari kegiatan produksi. Serta bagaimana cara mendistribusikan pendapatan tersebut secara adil sehingga tidak terjadi kesenjangan dan kecemburuan antarpemilik faktor produksi. Di Indonesia sendiri sudah ada aturan yang mengatur cara mengupah tenaga kerja hingga bisa dianggap adil, yakni dengan menetapkan UMR (upah minimum regional) di setiap daerah. UMR di kota-kota besar akan lebih tinggi dari UMR di kota kecil. Dengan demikian, UMR di Jakarta akan lebih tinggi dari UMR di Klaten.

Demikianlah penjelasan mengenai masalah pokok ekonomi klasik dan masalah pokok ekonomi modern. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Loading...
Blog, Updated at: 04.36

0 komentar:

Posting Komentar