Bentuk-Bentuk Franchise atau Waralaba di Indonesia

Posted by Ensikloblogia on Minggu, 09 Juli 2017

Loading...

Salah satu keburukan pasar oligopoli adalah perusahaan yang baru akan susah memasuki pasar ini, karena umumnya membutuhkan modal yang besar. Daripada susah dan tidak berhasil, perusahaan kecil bisa memakai alternatif lain yang mudah dan relatif aman untuk memasuki pasar oligopoli. Memang ada? Tentu saja ada, dan sebenarnya sudah dikenal sejak 100 tahun lalu, namanya franchising atau franchise atau waralaba. Franchising, atau franchise, adalah bentuk kerja sama antara pemilik franchise dan pembeli franchise atas dasar kontrak dan pembayaran royalti. Kerja sama itu meliputi pemberian lisensi atau hak pakai dari pemilik franchise yang memiliki nama/merek, gagasan, proses, formula, atau alat khusus ciptaannya kepada pihak pembeli franchise, disertai dukungan teknis dalam bentuk manajemen, pelatihan, promosi, dan sebagainya. Untuk itu pembeli franchise membayar hak pakai tersebut disertai royalti yang pada umumnya merupakan persentase dari jumlah penjualan. Sistem franchising sudah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu di Amerika Serikat. 

Pelopor industri ini adalah industri-industri mesin jahit (Singer), mobil, minuman ringan (Coca-Cola), dan industri makanan. Sistem penjualan franchise di Amerika telah memberikan kesempatan usaha bagi ratusan ribu pengusaha kecil dan membuka kesempatan kerja yang tak terhitung banyaknya. 

Bentuk-Bentuk Franchise atau Waralaba di Indonesia

Bentuk-bentuk franchise


Di Indonesia ada berbagai bentuk kerja sama franchise, antara lain sebagai berikut: 

1. Distribusi 

Sistem franchise dalam distribusi ditemui dalam banyak industri mobil, elektronika, mesin-mesin kantor, fotografi, dan sebagainya. Produsen sebagai pemilik franchise menyediakan produk jadi untuk dijual secara eceran maupun dalam partai besar oleh pembeli franchise. Produsen juga menyediakan dukungan teknik seperti pelatihan, alat-alat promosi dan iklan, sedangkan pembeli franchise tidak diperkenankan menjual produk dari produsen lain. Sistem ini disebut juga dealership. Contohnya: Sony, Toyota, Daihatsu, dan sebagainya. 

2. Manufaktur

Sistem franchise dalam manufaktur dikenal juga dengan sistem lisensi. Pembeli hak franchise membeli hak lisensi, termasuk merek, formula, paten, mesin/cetakan, teknik pembuatan, hak memproduksi serta hak menjual dari pemilik franchise. Sistem semacam ini diterapkan di banyak industri farmasi, kimia, makanan dan minuman ringan. Contoh: Kentucky Fried Chicken, Coca-Cola, obat-obatan, dan sebagainya. 

3. Toko eceran/pasar swalayan

Franchise di bidang toko eceran/pasar swalayan belum lama dikenal di Indonesia. Hingga tahun 1988, satu- satunya sistem kerja sama ini baru dipraktikkan oleh Circle K, yang hak franchise-nya dibeli oleh sebuah kelompok perusahaan di Jakarta. 

4. Jasa

Sistem kerja sama franchise dalam bidang jasa ditemui dalam kegiatan perbengkelan motor dan mobil, bengkel reparasi elektronik, serta kursus-kursus keterampilan. Pemilik franchise memberikan latihan dalam mereparasi, mengajar, serta memasok bahan-bahan yang diperlukan, yaitu suku cadang atau bahan kursus. Pembeli franchise berhak memakai nama/merek dagang pemilik franchise. Contohnya: Oxford English Course, bengkel reparasi yang resmi (au- thorized), dan sebagainya.


Segi Positif Franchising


Untuk pembeli franchise: 
  • Membuka kesempatan usaha bagi pengusaha-pengusaha yang hanya memiliki modal terbatas. 
  • Memulai usaha langsung dengan nama/merek yang sudah dikenal konsumen, sehingga risiko yang ditanggung lebih kecil. 


Untuk pemilik franchise: 
  • Memperluas pasar lebih cepat, tanpa memerlukan investasi besar. 
  • Mempermudah pengendalian kegiatan pemasaran, terutama penetapan harga, pengendalian mutu, dan lain-lain.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai bentuk-bentuk franchise di Indonesia. semoga bermanfaat dan memberikan ilmu baru.

Loading...
Blog, Updated at: 07.50

0 komentar:

Posting Komentar