Fungsi Hormon Auksin, Giberelin dan Sitokinin Pada Pertumbuhan Tanaman

Posted by Ensikloblogia on Jumat, 28 Juli 2017

Loading...

Seperti kita ketahui, bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh hormone. Hormon auksin, giberelin dan sitokinin adalah hormon yang paling memiliki peran besar dalam pertumbuhan tanaman. Ketiganya merupakan hormon pertumbuhan tanaman yang berperan besar dalam perkembangan tumbuhan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai fungsi hormone auksin, giberelin dan sitokinin pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Fungsi Hormon Auksin Pada Tanaman 

Auksin merupakan hormon pertumbuhan yang sangat penting. Auksin ditemukan oleh F.W. Went pada tahun 1928. Senyawa tersebut didapatkan pada ujung koleoptil kecambah Avena Sativa sejenis gandum. Selain di ujung koleoptil, auksin dihasilkan juga pada ujung batang, tunas puncak daun muda, dan buah yang sedang tumbuh. Auksin berfungsi untuk memacu perpanjangan sel di daerah belakang meristem. Auksin beredar ke seluruh tubuh tumbuhan dari pusat pembentukan, yaitu di ujung koleoptil, menuju ke arah basipetal, yaitu akar.

Berdasarkan eksperimen dapat ditunjukkan bahwa walaupun batang diletakkan terbalik, yaitu ujung batang berada di bawah, auksin tetap akan dialirkan menuju akar yang dalam keadaan tersebut berada di atas. Dari hasil penelitian dapat diketahui ada beberapa macam auksin, di antaranya: 
  1. Auksin a – terdapat pula pada urine hewan dan manusia. 
  2. Auksin b – terdapat pada minyak kecambah jagung.

Beberapa auksin dibuat secara sintetis, yaitu Asam Indole Asetat, Asam Indole Butirat, dan Asam Naftalen Asetat. Heteroauksin dikenal juga dengan nama Asam Indole Asetat. Secara ringkas fungsi hormon auksin adalah sebagai berikut: 
  1. Merangsang pembelahan, perpanjangan, dan diferensiasi sel-sel pada daerah titik tumbuh. 
  2. Menghambat pembentukan tunas. 
  3. Merangsang pembentukan bunga dan buah.

Hubungan Auksin dengan Beberapa Proses Fisiologi Secara fisiologis fitohormon berpengaruh terhadap berbagai proses, di antaranya proses pengembangan sel, fototropisme, geotropisme, pertumbuhan akar, partenokarpi, peluruhan, dan apikal dominan. 

(1) Proses pengembangan sel 

Heteroauksin yang dihasilkan di bagian ujung memengaruhi sintesis enzim tertentu yang kelak akan diteruskan menuju dinding sel dan menyebabkan dinding sel menjadi elastis. Dengan adanya sifat elastis tersebut, dinding sel mudah merenggang dan dapat tumbuh memanjang.

(2) Fototropisme 

Fototropisme adalah peristiwa pergerakan tumbuhan ke arah datangnya cahaya. Hal ini terjadi karena bagian yang tidak mendapat cahaya akan bertambah panjang dan lebih cepat. Cholodnydan Wentmenerangkan bahwa cahaya menyebabkan terjadinya pemindahan auksin secara lateral dari bagian yang terkena cahaya menuju bagian yang tidak terkena cahaya. Dengan demikian, jumlah auksin yang ada di bagian gelap akan lebih banyak daripada di bagian terang. Hal ini menyebabkan bagian batang yang tidak terkena cahaya akan bertambah panjang lebih cepat, akibatnya batang membelok ke arah cahaya.

(3) Geotropisme 

Geotropisme adalah pengaruh gravitasi bumi terhadap pertumbuhan yang terdiri atas: (a) Geotropisme positif, yaitu gerak akar yang mengarah ke pusat bumi. (b) Geotropisme negatif, yaitu gerak batang yang menjauhi pusat bumi.

(4) Auksin dan pembentukan akar 

Dari pengalaman sehari-hari dapat diketahui adanya tanaman yang dapat dibiakkan secara vegetatif dengan stek. Pemakaian berbagai macam fitohormon pada stek daun, batang, dan akar dapat merangsang pertumbuhan akar, seperti auksin asam Indole Butirat, dan asam Naftalena Asetat. Pengetahuan pemakaian berbagai macam fitohormon dalam merangsang pertumbuhan akar dimanfaatkan para petani untuk membiakkan secara vegetatif agar keturunannya tetap memiliki ciri-ciri yang diinginkan seperti induknya dan tumbuh cepat.

(5) Partenokarpi 

Partenokarpi adalah pembentukan buah tanpa terjadi pembuahan sehingga menghasilkan buah tanpa biji, seperti yang terjadi pada buah pisang, anggur tak berbiji, dan jeruk tak berbiji. Buah partenokarpi dapat dihasilkan secara buatan dengan cara pemberian auksin pada putiknya. Untuk itu digunakan asam Indole Butirat, giberelin, dan sitokinin. Pengetahuan tersebut di atas dimanfaatkan para petani untuk menghasilkan buah-buahan tanpa biji seperti yang telah kita nikmati dewasa ini.  Menurut penelitian Muir(1924), kandungan auksin pada ovarium yang mengalami pembuahan meningkat dan menyebabkan pembengkakan dinding ovarium. Pembengkakan ini disebabkan oleh auksin yang berasal dari serbuk sari atau auksin yang disintesis pada bakal buah sebagai hasil rangsangan serbuk sari. Pemberian auksin pada bunga merupakan suplai auksin tanpa adanya serbuk sari.

(6) Apikal dominan 

Apikal dominan merupakan suatu gejala bahwa selama pucuk batang (tunas terminal) masih ada, pertumbuhan tunas samping (tunas lateral) akan terhambat. Kalau tunas terminal dihilangkan, tunas ketiak daun akan segera tumbuh. Pengaruh tunas pucuk (terminal) yang menekan tunas lateral disebut apikal dominan. Dalam percobaan, jika tunas terminal yang dipotong diganti dengan potongan agar-agar yang mengandung auksin, tidak terjadi pertumbuhan tunas lateral, jika potongan agar-agar tadi diambil, pertumbuhan tunas lateral akan terbentuk.

(7) Peluruhan 

Peluruhan merupakan suatu proses alami yang terjadi pada bagian tumbuhan, seperti pada daun, buah, dan bunga. Peluruhan akan berlangsung karena terbentuknya suatu lapisan melintang yang sel-sel parenkimnya terpisah karena proses penuaan. Lapisan tersebut dinamakan lapisan peluruh pada tangkai daun, bunga, dan buah. Jika helai daun dipotong, tangkai daun akan meluruh karena hilangnya persediaan auksin pada daun. Akan tetapi, jika tangkai daun tersebut diberi auksin, peluruhan dapat terhambat.

Fungsi  Hormon Auksin, Giberelin dan Sitokinin Pada Pertumbuhan Tanaman

Fungsi Hormon Giberelin Pada Tanaman


Giberelin ditemukan oleh F. Kurasawa(1926) yang diperoleh dari jenis jamur Gibberella Fujikuroi, parasit pada tanaman padi. Gibberella ini berpengaruh pada pembelahan dan pemanjangan sel tumbuhan. Dari percobaan di University of Michigan, kubis yang tingginya biasanya hanya 3 dm, setelah diberi giberelin tingginya dapat mencapai 3,5 m.  Selain itu, giberelin juga mempercepat pertumbuhan buah-buahan sehingga waktu panen dapat dipercepat sampai hampir 50%.

Sebelum giberelin dapat diisolasi, jamur Gibberella dikultur dalam medium cair, maka cairan akan mengandung sekresi dari jamur tersebut. Sekarang telah diketahui bahwa giberelin terdapat pada berbagai bagian jenis tumbuhan sebagai regulator pertumbuhan. 

Di Jepang Seorang petani Jepang dapat mengembangkan lobak dengan memanfaatkan hormon giberelin hingga panjangnya mencapai 1,2 m dengan bobot 20 kg.


Fungsi Hormon Sitokinin pada Tumbuhan 


Pada tahun 1950, F. Skoog dan C.O Miller menemukan regulator pertumbuhan yang disebut sitokinin. Pada tumbuhan, sitokinin merangsang pembelahan sel (sitokinesis) yang banyak berpengaruh pada pertumbuhan akar dan tunas. Sitokinin diperoleh dari ragi, santan kelapa, ekstrak buah apel, dan dari materi tumbuhan lain. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa sitokinin berperan dalam pengontrolan hampir semua fase pertumbuhan, bekerja sama dengan auksin. Sitokinin yang telah lama dikenal adalah kinetin dan zeatin.

Demikianlah penjelasan mengenai fungsi hormon auksin, giberelin dan sitokinin pada pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Semoga bermanfaat. 

Loading...
Blog, Updated at: 20.03

0 komentar:

Posting Komentar