Masalah Kependudukan di Indonesia dan Fenomena Antroposfer

Posted by Ensikloblogia on Jumat, 28 Juli 2017

Loading...

Hal yang dipelajari dalam antroposfer adalah manusia (penduduk). Antroposfer berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan sphaira (sphere) yang berarti bola atau lingkungan. Jadi, antroposfer adalah manusia (penduduk) yang berdiam di muka bumi. Adapun fenomena antroposfer adalah peristiwa atau terjadinya sesuatu di muka bumi yang berkaitan dengan manusia (penduduk). Fenomena antroposfer atau masalah kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Tingkat Pertumbuhan Penduduk


Jumlah penduduk Indonesia dalam dua dekade terakhir ini terus bertambah. Pada tahun 1971 jumlahnya 119,2 juta; tahun 1980 jumlahnya 147,5 juta; dan tahun 1990 jumlahnya 179,3 juta. Berarti dalam waktu sembilan tahun, yaitu dari tahun 1971 - 1980 penduduk bertambah sebanyak 28,3 juta orang. Berarti pula kecepatan pertambahan penduduk sebesar 2,32% per tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya, yaitu dari tahun 1980 – 1990, penduduk bertambah sebanyak 31,8 juta orang. Berarti kecepatan pertambahan penduduk sebesar 1,98% per tahun. Penurunan laju per- tumbuhan tersebut, terutama disebabkan oleh penurunan tingkat kelahiran. Hal ini sebagai dampak dari meningkatnya persentase wanita dalam usia subur yang ikut program Keluarga Berencana dan meningkatnya usia kawin wanita. Laju pertumbuhan penduduk dan perubahannya untuk setiap provinsi tidak sama. Akan tetapi, semuanya menunjukkan kecenderungan menurun,

Kecuali Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Irian Jaya (Papua). Provinsi penerima transmigran, seperti Kalimantan Timur, Bengkulu, dan Riau, laju pertumbuhan penduduk- nya dalam kurun waktu 1980 sampai dengan tahun 1990 sangat tinggi. Kalimantan Timur laju pertumbuhan penduduknya 4, 42%, Bengkulu 4, 378%, dan Riau 4, 30%. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000, jumlah penduduk In- donesia adalah 206,3 juta jiwa. Jumlah ini meliputi penduduk Indonesia yang bertempat tinggal tetap sebesar 205,8 juta dan yang tidak bertempat tinggal tetap sebesar 421,399 jiwa. Tahun 2002, jumlah penduduk Indonesia meningkat menjadi 212 juta jiwa. Pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia hampir mencapai 250 juta jiwa. Untuk tingkat dunia, jumlah penduduk Indonesia menduduki urutan keempat paling banyak setelah Cina (pertama), India (kedua), Amerika Serikat (ketiga).

masalah kependudukan di Indonesia

2. Persebaran Penduduk di Indonesia

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persebaran Penduduk

  1. Faktor Lingkungan Yang termasuk faktor lingkungan adalah sebagai berikut: a) faktor alam, meliputi iklim, relief, kesuburan tanah, dan persediaan air b) lingkungan budaya, meliputi pendidikan, kesempatan kerja, pengangkutan, dan perhubungan.
  2. Faktor Potensi Ekonomi Faktor potensi ekonomi, yaitu kemampuan suatu wilayah untuk menyediakan sumber penghidupan bagi penduduk dan tersedianya sumber daya di wilayah itu.
  3. Faktor Demografi Faktor ini meliputi kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk.
  4. Faktor Politik Dengan adanya pemberontakan dan peperangan maka banyak penduduk yang pindah, sehingga akan mempengaruhi persoalan penduduk.

Persebaran Penduduk Berdasarkan Pulau

Berdasarkan hasil sensus tahun 2000, tingkat kepadatan penduduk Pulau Jawa mencapai 951 jiwa/km2 dan tahun 2002 mencapai 975 jiwa/km2. Tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Pulau Jawa pada tahun 2002 adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu 12.623 orang per km2. Di luar Pulau Jawa yang tergolong tinggi tingkat kepadatan penduduknya pada tahun 2002 adalah Bali, yaitu sebesar 573 orang per km2. Sementara itu, Provinsi Papua yang luasnya hampir 20% dari luas seluruh wilayah Indonesia, pada tahun 2002 tingkat kepadatan penduduknya hanya 6 orang per km2.

Persebaran Penduduk Berdasarkan Provinsi 

Provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali merupakan tempat persebaran penduduk yang besar karena mempunyai daya tarik. Misalnya, tempat tersedianya sarana pendidikan, pengembangan budaya, dan teknologi.


3. Mobilitas Penduduk

Pengertian Mobilitas penduduk atau gerakan penduduk ialah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Ada dua macam mobilitas penduduk, yaitu sebagai berikut. 
  1. Migrasi, yaitu mobilitas penduduk yang bertujuan untuk menetap di daerah baru. 
  2. Mobilitas sirkuler (mobilitas sementara), yaitu mobilitas penduduk untuk sementara waktu, tidak untuk menetap. Contohnya, setelah panen dan tidak ada kegiatan, para petani pergi ke kota untuk mencari nafkah (migrasi musiman); atau para pekerja yang pada waktu pagi pergi ke kota, sorenya kembali ke tempat tinggalnya di pinggiran kota.


4. Kualitas Penduduk

Kualitas penduduk disebut juga mutu penduduk atau mutu sumber daya manusia. Kualitas penduduk dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut: a. kualitas fisik penduduk, meliputi pemenuhan gizi, kesehatan, kematian, dan harapan hidup pada waktu lahir; b. kualitas nonfisik penduduk, meliputi pendidikan, latihan kerja, dan sikap (keinginan atau dorongan).

Makin tinggi pendidikan, makin tinggi pula keterampilan dan pengetahuannya, serta makin mudah menerima pembaruan. Apabila pendidikan dilengkapi dengan latihan kerja maka akan lebih baik. Pendidikan dan latihan kerja akan memberikan kemampuan dan sikap yang diperlukan untuk bekerja dengan baik. Hasilnya, produktivitas kerja menjadi tinggi. Dengan kualitas fisik dan nonfisik yang tinggi maka orang-orang dapat bekerja dengan hasil yang tinggi.

Apabila suatu negara memiliki kualitas penduduk yang tinggi maka penduduk atau sumber daya tersebut merupakan modal dan bukan menjadi beban pembangunan. Oleh sebab itu, peningkatan jumlah penduduk (kuantitas) perlu diikuti dengan peningkatan kualitas penduduk. Di Indone- sia, kualitas penduduk relatif masih rendah sehingga perlu ditingkatkan.

5. Upaya Pengendalian Penduduk 


Beberapa masalah pokok di bidang kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut: 
  • Jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi (dijelaskan di pokok bahasan Tingkat Pertumbuhan Penduduk). 
  • Persebaran penduduk tidak merata. Lebih dari 60% penduduk Indonesia bermukim di Pulau Jawa dan Madura yang luasnya 6,9% dari luas wilayah Indonesia. Sementara itu,  di luar Pulau Jawa dan Madura jumlah penduduknya lebih sedikit. Persebaran penduduk yang tidak seimbang membawa akibat kelebihan tenaga kerja di Pulau Jawa. Sementara itu, di luar Pulau Jawa kekurangan tenaga kerja. Akibatnya, terjadi pengangguran. 
  • Komposisi penduduk tidak menguntungkan. Penduduk yang berusia di bawah 15 tahun sebanyak 44% dan yang berusia di atas 64 tahun sebanyaks2% sehingga angka ketergantungannya tinggi sebab usia ini tidak produktif. 
  • Mobilitas penduduk rendah. Pada dasarnya, penduduk Indonesia tidak suka berpindah, walaupun mungkin akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Penduduk yang bertempat tinggal di Pulau Jawa sulit sekali untuk bersedia pindah ke luar Pulau Jawa.


Dengan adanya masalah-masalah penduduk di Indonesia yang demikian maka kebijakan pemerintah dalam upaya pengendalian penduduk adalah sebagai berikut. 
  • Menurunkan tingkat kelahiran, yaitu dengan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengurangi kemiskinan, meningkatkan perkembangan fisik dan mental anak, serta meningkatkan kesehatan ibu. Oleh karena itu, program Keluarga Berencana yang dikaitkan dengan kesejahteraan ibu dan anak akan diteruskan. 
  • Usaha untuk mempengaruhi persebaran penduduk, yaitu program transmigrasi dan pembangunan daerah. Hal ini dimaksudkan agar tenaga kerja, tanah, dan sumber-sumber alam dapat dimanfaatkan secara optimal.

Demikianlah penjelasan mengenai masalah kependudukan di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Loading...
Blog, Updated at: 20.30

0 komentar:

Posting Komentar