Pengertian Bank, Fungsi Bank dan Jenis-Jenis Bank

Posted by Ensikloblogia on Rabu, 30 Agustus 2017

loading...

Bank adalah lembaga keuangan yang berperan sangat besar dalam kegiatan perekonomian. Bank disebut sebagai urat nadi kegiatan perekonomian, karena tanpa adanya bank maka kegiatan ekonomi akan mengalami kelumpuhan. Karena begitu pentingnya, maka tidak heran jika kita masih bisa menemukan bank di daerah pelosok. Pemerintah memiliki peran besar untuk mengatur sektor perbankan agar bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pengertian bank, fungsi bank dan jenis-jenis bank serta sejarah awal mula bank.

Sejarah dan Arti Bank 


Bank berasal dari bahasa Yunani banco yang berarti bangku atau meja, yang pada saat itu digunakan sebagai tempat menukar uang. Kegiatan bank pada mulanya adalah memperjualbelikan uang yang berupa uang emas dan perak. Selanjutnya, kegiatan bank bertambah dengan menerima titipan simpanan uang logam. Sebagai bukti bahwa seseorang telah menitipkan uang, dia diberi nota emas Smith yang lebih dikenal dengan sebutan Gold Smith Notes. Pada zaman sekarang, Gold Smith Notes ini sejenis dengan bentuk uang giral. 

Lalu apa pengertian bank secara lengkap? Menurut Profesor GM Verryn Stuart dalam bukunya Bank Politic, bank adalah suatu badan usaha yang bertujuan untuk memberikan kredit baik dengan uang sendiri maupun dengan uang yang dipinjam dari orang lain, dan mengedarkan alat penukar berupa uang kertas dan uang giral. Adapun Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 mengenai perbankan, mengartikan bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Pengertian Bank, Fungsi Bank dan Jenis-Jenis Bank

Fungsi Bank 


Sebagai lembaga keuangan, bank memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: 

a. Sebagai penghimpun dana dari masyarakat, antara lain dalam bentuk: 
  • tabungan biasa yang bisa diambil setiap saat;
  • deposito (tabungan berjangka) yang hanya bisa diambil setelah jangka waktu tertentu; 
  • giro atau rekening koran, yaitu simpanan yang bisa diambil hanya dengan menggunakan cek atau bilyet giro; Kegiatan menghimpun dana dari masyarakat disebut kredit pasif. 

b. Sebagai penyalur dana kepada masyarakat dalam bentuk: 
  • kredit produktif, yaitu pinjaman yang diberikan untuk tujuan produksi, seperti membuka usaha bengkel dan mendirikan perusahaan. 
  • kredit konsumtif, yaitu pinjaman yang diberikan untuk tujuan konsumsi, seperti membeli perabot. Dana yang disalurkan bank kepada masyarakat berasal dari tabungan atau simpanan masyarakat dan dari dana bank sendiri. Kegiatan bank menyalurkan dana kepada masyarakat disebut kredit aktif. 

c. Sebagai perantara lalu lintas moneter Dalam hal ini, bank memberikan jasa pelayanan di bidang keuangan, seperti: jasa pengiriman uang, melakukan inkaso dan diskonto. 

Jenis-Jenis Bank 

Jenis-jenis bank dapat dikelompokkan menurut kegiatan, badan usaha, kepemilikan dan organisasinya.

Menurut kegiatan atau fungsinya, ada tiga macam bank, yaitu Bank Sentral, Bank Umum dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat).

1) Bank Sentral 

Bank Sentral adalah bank yang bertanggung jawab menjaga kestabilan nilai rupiah dan mengatur serta mengawasi kegiatan lembaga-lembaga keuangan. Sesuai dengan namanya (Bank Sentral atau Bank Pusat) maka hanya ada satu bank sentral di suatu negara. Di Indonesia, kedudukan bank sentral dipegang oleh Bank Indonesia. Sedang di Amerika, bank sentral dipegang oleh  Federal Reserves System di Inggris dipegang oleh Bank of England. 

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang tersebut. Menurut undang- undang itu juga, tujuan didirikannya Bank Indonesia adalah untuk mencapai kestabilan nilai rupiah. Yang dimaksud kestabilan nilai rupiah adalah kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa serta terhadap mata uang negara lain. Kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa dapat dilihat dari perkembangan laju inflasi. Adapun kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain, dapat dilihat dari perkembangan nilai tukar rupiah. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia memiliki tugas-tugas sebagai berikut: 
  1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Penjelasan dan pengertian tentang kebijakan moneter serta macam- macam kebijakan moneter  akan dibahas di bagian selanjutnya bab ini. 
  2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Dalam mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. 
  3. Mengatur dan mengawasi bank. Bank Indonesia menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin usaha bank, melaksanakan pengawasan serta memberi sanksi bagi bank yang melanggar peraturan.

Mengatur dan mengawasi bank-bank adalah salah satu tugas Bank Indonesia. Berikut ini kalian akan menyimak sepak terjang BI dalam melakukan  tugas pengaturan dan pengawasan bank yang ternyata sulit dan merepotkan.

2) Bank Umum 

Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat, memberikan pinjaman kepada masyarakat, serta memberikan jasa pelayanan di bidang keuangan. Dikatakan umum karena memberikan jasa kepada masyarakat umum, dan dapat beroperasi di seluruh wilayah. Usaha-usaha yang bisa dilakukan bank umum meliputi: 
  1. menghimpun dana dari masyarakat, berupa tabungan biasa, deposito dan lain-lain; 
  2. memberikan pinjaman (kredit) kepada masyarakat; 
  3. melakukan jasa pengiriman uang; 
  4. melakukan inkaso antarbank; 
  5. melakukan jual beli surat-surat berharga, seperti wesel dan kertas perbendaharaan negara; 
  6. menerima titipan barang-barang berharga; 
  7. melakukan kegiatan-kegiatan perbankan lainnya yang sesuai dengan undang-undang dan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia. 


3) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 


BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan menerima simpanan dari masyarakat hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan atau bentuk lainnya serta memberikan pinjaman kepada masyarakat. Dengan demikian, usaha yang bisa dilakukan BPR lebih sedikit atau lebih sempit dibandingkan bank umum. Adapun usaha-usaha yang bisa dilakukan BPR adalah: 
  1. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito dan bentuk lain yang sama dengan itu, 
  2. memberikan pinjaman (kredit), 
  3. menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasar prinsip syariah sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, 
  4. menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito dan tabungan pada bank lain. 

BPR dilarang melakukan usaha-usaha berikut: 
  1. menerima simpanan berupa giro, 
  2. ikut serta dalam lalu lintas pembayaran, seperti transfer dan kliring,
  3. melakukan kegiatan usaha valuta asing,
  4. melakukan penyertaan modal, 
  5. melakukan usaha asuransi. Contoh BPR di antaranya adalah Bank Desa, Bank Kredit Desa (BKD) dan Bank Pasar.


Menurut bentuk-bentuk badan usaha, ada empat macam bank, yaitu: 
  1. Bank berbentuk Perseroan Terbatas (PT). 
  2. Bank berbentuk Firma. 
  3. Bank berbentuk Koperasi. 
  4. Bank berbentuk Perusahaan Perseorangan.


Menurut kepemilikannya bank dapat dikelompokkan sebagai berikut: 

1) Bank milik Negara 

Bank milik negara adalah bank yang modalnya berasal dari negara dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contohnya antara lain BNI 1946, BRI (Bank Rakyat Indonesia), Bank Mandiri, dan BTN (Bank Tabungan Negara).

2) Bank milik Pemerintah Daerah 

Bank milik pemerintah daerah adalah bank milik pemerintah daerah yang terdapat di setiap daerah. Contoh: Bank Jabar dan Bank DKI. 

3) Bank milik Swasta 

Bank milik swasta adalah bank yang modalnya berasal dari pihak swasta. Bank swasta hanya bisa didirikan setelah mendapat izin dari Menteri Keuangan dan meminta pertimbangan-pertimbangan dari Bank Indonesia sebagai bank sentral. Contoh bank milik swasta antara lain Bank Mega, Bank Lippo dan BCA.

4) Bank Koperasi 

Bank koperasi adalah bank yang modalnya berasal dari perkumpulan koperasi. Contoh: Bukopin (Bank Umum Koperasi Indonesia). 

5) Bank Syariah 

Bank syariah adalah bank yang modalnya berasal dari pihak swasta dan didirikan atas dasar hukum agama Islam. Berkaitan dengan bank, ada dua konsep dalam hukum agama Islam, yaitu: larangan penggunaan sistem bunga, karena bunga (riba) adalah haram hukumnya. Sebagai pengganti bunga digunakan sistem bagi hasil. Dalam bank syariah, kedudukan bank adalah sebagai pemodal (investor). Sedangkan nasabahnya bertindak sebagai Mitra Pemakai Modal. Sedangkan dalam bank umum, hubungan antara bank dan nasabah adalah sebagai kreditur (menyimpan) dan debitur (meminjam) saja. 

Dalam menjalankan usahanya, bank syariah memiliki tiga prinsip, yaitu: 
  1. Prinsip Mudhorobah Berdasarkan prinsip ini, bank berperan memberikan modal, sedangkan nasabah memberikan keahlian. Kemudian, laba yang diperoleh dibagi menurut rasio nisbah yang disetujui. 
  2. Prinsip Murobahah Berdasarkan prinsip ini, nasabah membeli komoditi dengan rincian tertentu dan bank mengirimkannya kepada nasabah berdasarkan imbalan harga tertentu sesuai kesepakatan awal kedua pihak. 
  3. Prinsip Musharokah Berdasarkan prinsip ini, bank dan nasabah sama-sama menyumbang modal dengan tingkat tertentu, kemudian laba dibagi dengan rasio tertentu, sesuai kesepakatan.

Prospek Perbankan Syariah Cerah Bandung, Kompas – Prospek usaha perbankan syariah di Jawa Barat dinilai sangat menjanjikan. Hal itu dapat dilihat dari peningkatan jumlah kantor, total aset, dana pihak ketiga, dan rasio pembiayaan terhadap simpanan yang terus bertambah setiap tahun. Demikian dikatakan pemimpin Bank Indonesia (BI) Bandung Soegiarto Djaelani. Jumlah kantor bank syariah meningkat dari 47 kantor tahun 2003 menjadi 65 kantor sampai akhir Februari tahun 2005. Saat ini, di Jawa Barat terdapat dua bank umum syariah dan enam unit usaha syariah (UUS) dari bank umum konvensional. Sejalan dengan bertambahnya jumlah kantor, total aset bank umum syariah juga mengalami pertumbuhan sebesar 133 persen dari Rp829 miliar tahun 2003 menjadi Rp1,93 triliun tahun 2004. Simpanan masyarakat pada bank juga bertambah 111,33 persen dari Rp640 miliar tahun 2003 menjadi  Rp1.359 triliun tahun 2004. “Pertumbuhan itu terjadi di semua komponen simpanan, yaitu giro, tabungan, dan deposito. Hal ini mengindikasikan semakin meningkatnya minat masyarakat Jawa Barat untuk menyimpan dananya di perbankan syariah,” ujar Soegiarto. Kodradi menambahkan, sistem syariah tidak ditujukan hanya untuk umat Islam, tetapi berlaku universal untuk semua golongan. Bank-bank yang berasal dari negara non-Muslim seperti Hongkong Bank atau Citibank juga ikut membuka unit syariah. (BAY)



Menurut organisasinya, bank terdiri atas: 
  1. Unit banking, yaitu bank yang hanya memiliki satu organisasi dan tidak memiliki cabang di daerah lain. 
  2. Branch banking, yaitu bank yang memiliki cabang-cabang di daerah lain. 
  3. Correspondency banking, yaitu bank yang dapat melakukan kegiatan pemeriksaan dokumen ekspor-impor dan kegiatan utamanya di luar negeri.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian bank, jenis-jenis bank, dan fungsi bank. Semoga bermanfaat dan memberikan informasi yang anda perlukan.

loading...
Blog, Updated at: 19.36

0 komentar:

Posting Komentar